Skip to content

Mindset “Wirausahawan”

18 September 2013

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh,

Saudaraku yth,

Saat sedang berpresentasi di salah satu kelas Magister Manajemen pekan lalu, ada mahasiswa yang bertanya pada saya “Pak, menurut anda apa yang paling mendasar yang harus dilakukan agar kita memiliki Kecakapan menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri?”.

Jawaban pertanyaan itu sejatinya sungguh merupakan “cikal bakal” bekal paripurna sebagai “modal utama” untuk dapat sukses sebagai wirausaha tangguh.

Mengapa ?? Karena kita sedang berbicara tentang “Mindset berwirausaha” atau “The Individual Entreprenerial Mindset”, yang akan mampu menggerakkan dan melecut seseorang sehingga bersedia berkeinginan untuk masuk ke “wilayah tidak nyaman” (ke luar dari comport zone) dengan melakukan aktivitas berwirausaha.

Pada kesempatan ini, saya hanya akan membahas mengenai “Sikap” atau “Attitude” dan “Cara Mengelola” Mindset berwirausaha tersebut.

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa seorang wirausaha itu wajib di dalam dirinya itu tertanam dan memiliki paling tidak tiga hal berikut, yakni Imajinasi (Imagination), fleksibel (Flexibility), dan bersedia menerima resiko (Acceptance of Risks) agar dapat berpeluang “menjadi peserta sukses” aktivitas berwirausaha.

Penjelasan mengenai definisi ‘imajinasi’ dan ‘fleksibel’ beserta kaitannya dengan pola pikir berwirausaha, saya yakin semua dari kita langsung dapat mencernanya dan memahaminya dengan baik. Tapi mengenai “Bersedia menerima resiko”, mungkin perlu kejelasan definisi lebih jauh mengenai hal ini.

“Resiko” itu berkorelasi dengan peluang yang masih “fifty-fifty” tentang keberhasilan atau kegagalannya lho . .

Misalnya, anda bersedia berinvestasi ‘besar-besaran’ dan ‘habis-habisan’ berani mengambil “resiko” terjun di bidang bisnis yang anda belum pernah kenal sama sekali di bidang usaha ini, maka berdasarkan definisi “resiko” yang telah dikemukakan di atas tadi itu anda itu bukan dalam kategori “berani mengambil resiko”, karena secara logika  sederhana saja peluang anda untuk masuk kebisnis itu diperkirakan akan terjun bebas dan “hancur lebur”.

Jadi, bila hal itu yang anda lakukan maka anda bukannya orang yang “berani mengambil resiko”, tapi anda orang yang “berani membuat diri anda terpuruk” alias “kurang cerdas”, karena peluang anda untuk gagal atau berhasil tidak “fifty-fifty” lagi tapi dapat dipastikan lebih dari 50% peluang anda tinggi sekali untuk gagalnya.

lalu, sikap positif pola pikir berwirausaha itu seperti apa ?

Menurut beberapa literatur, sikap positif pola pikir berwirausaha (The Individual Entreprenerial Mindset Right Attitude) antara lain :

– Dapat bekerja tanpa supervisi (Able to work without supervision)
– Dapat memotivasi diri sendiri (Able to self-motivate)
– Dapat membuat keputusan yang cepat (Able to make quick decisions)
– Mampu menghendle stress (Able to handle stress)
– Open-minded dan fleksible (Open-minded and flexible)
– Berfokus pada bidang usahanya (Focused)
– Gigih (Persistent)
– Sabar (Patient)
– Dan lain-lain

Seseorang yang hendak menciptakan suatu kegiatan usaha (menjadi wirausaha), wajib memiliki dan mengelola “The Individual Entrepreneurial Mindset”-nya, seperti berikut (McGrath  &  MacMillan,  2000: 339):

1. “Develop Insight Into The Customers‘ Behavioral Context”

Seorang entrepreneur tidak harus memiliki produk yang revolusioner, yang lebih dibutuhkan adalah pemikiran revolusioner ke dalam suatu konteks kehidupan pelanggan, menciptakan ide yang mampu menjadi jawaban bagi masalah utama pelanggan dalam konteks tersebut.

2. “In An Individual Entrepreneurial Mindset, Everybody Plays”

Tindakan menyertakan orang lain dalam kegiatan entrepreneurial merupakan proses yang penting. Ide beberapa orang yang dilebur menjadi satu akan memberikan hasil yang lebih baik daripada pemikiran satu orang saja. Seorang entrepreneur akan belajar banyak hal mengenai team building dan leadership jika ide ini diterapkan.

3. “Experiment Intelligently”

Perumusan strategi bisnis yang dilakukan oleh entrepreneur lebih berdasarkan eksperimen dan trial-error daripada analisis dan forecasting.  Eksperimen merupakan tindakan nyata untuk memilih dan memulai proyek ide secara nyata namun dalam skala yang masih kecil, berbeda dengan analisis dan forecasting yang hanya merupakan perencanaan. Entrepreneur tidak takut terhadap kegagalan, namun demikian resiko yang akan diterima harus diperhitungkan dengan matang, agar kegagalan yang akan terjadi dapat diminimalisasi.

4. “Spend Imagination Instead of Money”

Seorang entrepreneur secara rutin menggunakan waktu-waktu tertentu untuk berimajinasi dan berkreasi supaya ide-ide baru muncul. Ide tersebut tidak selalu mengenai pengembangan produk, tetapi juga hal-hal yang berkaitan dengan operasional dan promosi pemasaran.  Untuk berhasil, entrepreneur lebih bergantung pada imajinasi idenya daripada besaran nominal uang yang dimiliki.

5. “Framing Is Crucial To The Entrepreneurial Leader”

Tanpa kerangka kerja yang jelas, semua orang akan terjebak dalam ketidakpastian. Seorang yang memiliki entrepreneurial mindset mampu menyediakan kerangka sistem pekerjaan yang jelas bagi semua orang yang bekerja bersamanya.  Dengan demikian, setiap orang akan mampu bekerja dengan efektif dan menghadapi tantangan ke depan yang lebih pasti.

6. “Be Ruthless With Respect To Priorities”

Seorang entrepreneur harus mampu memilah tugas, mana yang perlu atau tidak untuk dilakukan, mana yang sifatnya segera atau dapat ditunda.

7. “Using Measures Early On is better than using precise ones too late”

The Individual Entrepreneurial mindset dapat terus dikembangkan dengan cara menggunakan ukuran atau batasan untuk setiap persoalan. Beberapa standar harus ditetapkan terlebih dulu oleh seorang entrepreneur untuk memastikan kualitas pekerjaan dan produk yang dihasilkan.

8. “Pay Attention To The Cost Of Failure”

Tidak ada seorang pun entrepreneur di dunia ini yang tidak pernah mengalami kegagalan.  Dalam kondisi yang tidak menentu, seorang entrepreneur hanya memiliki kontrol terbatas terhadap kemungkinan terjadinya kegagalan.  Bahkan kegagalan merupakan harga yang harus dibayar untuk masuk ke peluang baru berikutnya.  Biaya akan kegagalan (cost of failure) tersebut yang masih dapat dikontrol, seorang  entrepreneur harus memiliki calculated risk taking mindset. Meminimalisasi biaya kegagalan, bukan meminimalisasi jumlah kegagalan.

Nah, ayo perbaiki dan benahi pola pikir berwirausaha anda, mungkin hal ini merupakan salah satu penyebab mengapa pengelolaan bisnis anda belum dapat berkembang pesat.

Semoga bermanfaat  . .

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh,

Oleh: Bpk. Amriwansyah Kumara (Beliau adalah HUMAS KPMI  dan juga seorang praktisi pemasaran, owner jaringan usaha Restoran, dan Cafe & Resto)

 

dikutip dari http://pengusahamuslim.com

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: